Translate

Showing posts with label Suami. Show all posts
Showing posts with label Suami. Show all posts

25 Oct 2013

Becoming a Man of Value

Siang ini aku 'terpaksa' makan sendirian di salah satu restaurant fast food. Suami harus bekerja setengah hari dan kebetulan tidak ada makanan di rumah. Salah satu kenikmatan menghabiskan waktu sendirian di resto atau cafe adalah keleluasaan mengamati gerak-gerik orang-orang di sekelilingku. Sungguh menarik memperhatikan kehidupan nyata, yang tidak segemerlap sinetron tapi bisa memberikan inspirasi atau renungan.

Ada keluarga kecil yang sedang menikmati makan siangnya. Ada keluarga yang memiliki dua anak perempuan remaja, yang masing-masing anggotanya sibuk memperhatikan gadget di tangan masing-masing. Ada seorang ibu yang memiliki dua anak balita dan masing-masing anaknya harus diawasi oleh seorang babysitter. Ada pula seorang bapak setengah baya yang sedang menemani kedua anak remajanya menikmati ayam gorengnya.

Memang tak ada yang istimewa. Semuanya tampak normal saja. Tak ada drama, tak ada yang luar biasa. Tapi dari situ lah kadang inspirasi menulisku tiba-tiba muncul. Seperti hari ini, aku merasa ingin sekali menulis.

Ada satu kepedihan di hati setiap melihat satu keluarga muda, yang disibukkan dengan anak balitanya. Mungkin pasangan suami istri tersebut bisa jadi merasa tak nyaman dengan harus mendorong kereta bayinya keluar masuk pertokoan. Mungkin pula mereka harus mengorbankan kenikmatan menonton film di bioskop karena anaknya masih terlalu kecil untuk bisa mengerti jalan cerita sebuah film. Atau mungkin saja mereka harus menahan malu setiap kali anaknya menangis menjerit-jerit bila keinginannya tak terpenuhi. Segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Tetapi seluruh ketidaknyamanan, pengorbanan dan rasa malu itu tentu saja tidak sebanding dengan kebahagiaan mereka bermain dengan si kecil dan mengelus-elus kepalanya.

1 Aug 2013

Happy Anniversary, my Dearest Husband..

Saya jadi ingat betapa saya membenci semua hal yang berbau adat dan budaya. Bagi saya, kita semua adalah satu. Suku Jawa, Batak, Bali, Madura, Dayak. Sampai-sampai di hari pernikahan saya pun, saya dan suami bersepakat untuk meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara adat. Perlu diketahui, saya adalah orang Jawa tulen dan suami saya berdarah Batak dan Jawa. Meskipun dominan sekali Bataknya.


Saya dibesarkan di keluarga yang sungguh demokratis. Saya disekolahkan di sekolah swasta, dari mulai TK sampai SMU. Di Surabaya, sekolah-sekolah swasta biasanya didominasi oleh siswa beretnis Tionghoa. Jadi memang di lingkungan sekolah yang bisa dibilang minim sekali jumlah siswa pribuminya ini, saya dan adik saya menghabiskan masa kecil hingga remaja kami. Otomatis kami pun tidak pernah mengkotak-kotakkan diri kami dari teman-teman di sekolah. Bagi saya pribadi, Jawa atau Cina, Katolik atau Muslim, kita semua dilahirkan sama. Inilah yang selalu ditanamkan oleh orang tua saya. Maka ketika kami anak-anaknya mulai dewasa, mereka memberi kebebasan penuh kepada kami untuk memilih pasangan. Kami berdua pun akhirnya menikah dengan pasangan dari suku yang berbeda.


Di Surabaya, saya merasa orang sepertinya cenderung untuk hidup berkelompok, sesuai dengan suku/etnisnya, ataupun agamanya. Berbeda sekali dengan kehidupan bermasyarakat di Jakarta. Inilah yang membuat saya begitu mencintai kota Jakarta ini. Saya bisa bertemu manusia dari belahan nusantara manapun. Orang  dari suku Minang, Sunda, Batak, Madura, Bali. Semuanya tumplek blek di kota metropolitan ini.


Saya sempat menghabiskan hidup saya di New Zealand selama 6 tahun dan hal yang sama saya alami di kota Auckland. Auckland adalah Jakartanya New Zealand. Di sanalah pusat hiburan dan ekonomi berada. Bedanya hanya di skalanya. Bila di Jakarta, kita bisa bertemu manusia dari bermacam-macam suku dan mungkin negara (meskipun tidak terlalu besar chancenya), tetapi di Auckland saya bergaul dengan manusia dari beragam bangsa. Saya sungguh menikmati keberagaman ini. Dan mungkin inilah yang mendorong saya untuk menikahi seorang yang sangat berbeda latar belakang dengan diri saya.


Saya dan suami adalah dua pribadi yang sungguh berbeda dari segi apapun. Suku. Ini jelas. Usia kami pun berbeda 6 tahun. Hobi. Saya cinta buku sedangkan dia alergi buku. Karakter. Saya ekspresif dan extrovert. Dia lebih datar dan introvert. Latar belakang dan karakter keluarga lah yang mungkin membuat kami memiliki sifat yang jauh berbeda. Tapi, hey, kami tidak menjadikan perbedaan itu sebagai hal tabu, hal yang harus dihindari. Bagi kami justru perbedaan inilah yang bisa menjadikan hidup kami lebih berwarna. Perbedaan lah yang menyatukan hati kami. He completes me, his way of loving me says it all.